Cerita Terkini

Eco-English Jogja: Mengubah Sampah Menjadi Eco Enzyme 

 

Program Eco-English, 28 Februari 2026.

 

 

 

Setelah sebelumnya peserta Eco-English diekspos ke berbagai metode pengelolaan sampah organik dan non-organik, seperti di TPA Mexicana dan penerapan 3R-nya (Reduce, Reuse, Recycle), Omah Lor dengan berbagai metode pengomposan sampah organiknya, Daur Resik dengan metode 11R-nya, dan Tactic Plastic dengan art-nya, kali ini peserta Eco-English diajak ke cara lain mengolah sampah organik, yaitu pembuatan Eco-Enzyme. Mengubah sisa buah dan sayur menjadi eco enzyme yang manfaatnya banyak sekali. 

 

Pembuatan Eco-Enzyme adalah salah satu metode pengolahan sampah organik rumah tangga. Namun berbeda dengan sampah organik pada umumnya, yang sekedar sampah yang bisa dikompos, pembuatan Eco-Enzyme membutuhkan sampah organik tertentu dan bersih. Sampah ini berupa sisa sayuran dan buah-buahan bersih yang kemudian difermentasi dengan rasio dan waktu tertentu. Perbandingan antara gula jawa/molase, bahan organik, dan air adalah 1:3:10. Artinya sampah organiknya ada 300 gram maka gulanya 100 gram dan airnya 1000 ml (1 liter) air bersih. Ketiga bahan ini yang kemudian dicampur dalam wadah plastik dan dibiarkan terfermentasi selama setidaknya tiga bulan, baru bisa dipanen sebagai eco-enzyme. 

 

Manfaat Eco Enzyme

 

Pengetahuan membuat eco-enzyme ini penting karena selain sebagai salah satu cara mengatasi permasalahan sampah organik, produk eco-enzyme mempunyai manfaat yang sangat banyak untuk lingkungan dan untuk kebutuhan rumah tangga. 

Manfaat untuk lingkungan meliputi: mengatasi masalah sampah organik; sebagai pupuk cair organik; bisa digunakan untuk menjernihkan air sungai, selokan, danau, dan got. Bisa juga untuk mengatasi bau selokan atau got karena kandungan bahan aktif di dalamnya.  Sementara manfaat untuk rumah tangga meliputi: sebagai bahan sabun, pembersih, aerosol, bahan kumur, dan lain-lain. Karena manfaat ini maka pengetahuan tentang eco enzyme dan cara membuatnya menjadi penting. Untuk belajar lebih jauh tentang eco Enzyme dan cara membuatnya, peserta Eco English berkunjung ke café Kebon Ijo yang dikelola oleh ibu-ibu pegiat Eco Enzyme. Mereka adalah ibu-ibu yang sangat bersemangat dan dengan senang hati dan sukarela mengajarkan cara membuat eco-enzyme pada siapapun yang mau belajar. Itu sebabnya pembuatan Eco Enzyme menjadi salah satu kegiatan di program Eco English. Selain untuk belajar membuat Eco-Enzyme juga untuk ditulari semangat ibu-ibu ini, motivasi dan semangat apa yang mendasari pilihan kegiatan lingkungan mereka, why do they do what they do?  

 

“Why do they do what they do?"

 

Ini adalah pertanyaan yang selalu ditanyakan pada semua praktisi di awal perkenalan, why do you do what yo do? Ada cerita apa sebelumnya yang membuat mereka menekuni apa yang mereka lakukan saat ini. Life story atau background story ini penting karena bisa menjadi sumber inspirasi dan penguat buat kami-kami yang baru mau memulai. Kegiatan lingkungan butuh kesabaran, ketekunan, dan energi yang kuat, kalau tidak ditopang oleh motivasi yang tepat bisa tidak kuat bertahan. 

 

Mentor Eco Enzyme kami adalah Ibu Kiki dan Ibu Fimela. Mereka adalah anggota organisasi Eco Enzyme Nusantara. Mereka berdua adalah pensiunan pertamina yang saling berteman yang akhirnya memilih tinggal di Yogyakarta dan menekuni eco enzyme dan mengajarkannya pada berbagai banyak orang dari berbagai kalangan. Mereka membina kelompok ibu-ibu sekitar tempat tinggal mereka untuk mengolah sampah. 

 

Praktek Membuat Eco Enzyme

 

Setelah pemaparan apa itu Eco Enzyme dan berbagai manfaatnya, peserta kemudian mempraktekkan pembuatan eco enzyme dengan bahan-bahan dan wadah yang telah disediakan. Bu Kiki dan Bu Fimela memandu cara pembuatannya dalam bahasa Inggris kadang campur bahasa Indonesia. Dimulai dengan mencampurkan molase dan air lebih dulu, setelah tercampur rata baru kemudian bahan sisa sayuran dan buah-buahan dimasukkan dalam wadah yang sudah diisi air. Perbandingan gula, bahan, dan air selalu ditekankan, rasio 1:3:10, agar peserta selalu ingat. Peserta Eco English menikmati sekali praktek ini, mereka ketawa-ketawa bahagia walaupun hujan deras mengiringi kegiatan.

 

Bagi sebagian besar peserta, ini adalah pengalaman baru dan pengetahuan baru, tetapi bagi beberapa yang lain, mereka sudah tahu dan pernah praktek, tetapi penjelasan dan prakteknya tidak sekomplit dan sedetail yang dilakukan oleh Bu Kiki dan Fimela. Menurut mereka kegiatan ini seru dan penting. Mereka dapat pengetahuan dan pengalaman baru,  dan lebih kenal peserta lainnya karena melakukan praktek bersama-sama dan bisa ketawa-ketawa. 

 

Eco Communication: AREL Framework

 

 

Setelah pemaparan tentang benefits eco enzyme, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan tentang komunikasi efektif menggunakan AREL framework. AREL adalah singkatan dari Assertion (penyataan atau klaim), Reasoning (argumen atau penjelasan logis dari pernyataan atau klaim), Evidence (bukti atau fakta pendukung), dan Linkback (mengaitkan lagi argumen dengan pernyataan atau isu yang dibahas. AREL adalah metode menyampaikan opini yang efektif dengan menyampaikan empat poin penting itu dengan jelas. Metode ini penting dalam komunikasi lingkungan untuk menyakinkan orang pentingnya mengubah perilaku yang agar lebih ramah lingkungan. 

 

Kosa kata baru

 

Tiap pertemuan, setiap peserta diminta untuk menulis setidaknya lima kosakata baru atau pengetahuan baru yang didapat dari kegiatan hari itu. Dari kegiatan eco enzyme dan eco communication ini, banyak kosa kata bahasa Inggris dan pengetahuan baru yang didapatkan peserta karena Bu Kiki dan Bu Fimela menyampaikan dalam bahasa Inggris. Kosa kata baru dan pengetahuan baru itu dikumpulkan dan nantinya akan dibuat kartu berupa Eco-English Flashcard. Kosa kata baru itu adalah: gargling (berkumur), pitera, yeast infection, fitokimia, fitohormon, kitchen scrap, assertion, reasoning, evidence, dan linkback (njm).

 

Eco-English Jogja: Transforming Waste into Eco-Enzyme

 

After previously being exposed to various organic and inorganic waste management methods—such as the Mexicana Landfill with its 3R (Reduce, Reuse, Recycle) application, Omah Lor with its diverse organic composting methods, Daur Resik with its 11R method, and Tactic Plastic with its artistic approach—the Eco-English participants were introduced to a different way of processing organic waste: Eco-Enzyme. This process turns fruit and vegetable scraps into a liquid with a multitude of benefits.

 

The Science of Eco-Enzyme

 

Eco-Enzyme production is a specific method for processing household organic waste. Unlike general organic waste that can simply be composted, Eco-Enzyme requires specific, clean organic materials. It utilizes fresh vegetable and fruit scraps fermented over a specific duration and ratio.

The standard ratio of Palm Sugar/Molasses : Organic Material : Water is 1:3:10.

  • Example: For 300g of organic waste, you need 100g of sugar and 1000ml (1 liter) of clean water.

 

These three ingredients are mixed in a plastic container and left to ferment for at least three months before the Eco-Enzyme can be harvested.

 

The Benefits of Eco-Enzyme

 

Understanding Eco-Enzyme is vital because, beyond being a waste solution, the final product offers extensive benefits:

  • For the Environment: Solves organic waste issues, acts as a liquid organic fertilizer, and can purify water in rivers, ditches, lakes, and sewers. It also neutralizes odors due to its active ingredients.
  • For the Household: Can be used as a base for soap, cleaners, aerosols, mouthwash, and more.

 

Learning from the Experts

 

To deepen their knowledge, participants visited Café Kebon Ijo, managed by dedicated Eco-Enzyme activists. These passionate women—Mrs. Kiki and Mrs. Fimela—are members of Eco Enzyme Nusantara. As Pertamina retirees who chose to settle in Yogyakarta, they now spend their time teaching waste management to various communities.

 

Beyond the "how-to," participants explored the "Why do they do what they do?" aspect. Understanding the life stories and motivations of these mentors is crucial, as environmental work requires patience, perseverance, and strong energy. Without the right motivation, it is difficult to sustain.

 

Hands-on Practice

 

Guided by Mrs. Kiki and Mrs. Fimela in a mix of English and Indonesian, participants practiced the production process. They began by mixing molasses and water before adding the kitchen scraps. The 1:3:10 ratio was emphasized repeatedly to ensure it was memorized. Despite the heavy rain, the participants enjoyed the session, filled with laughter and shared learning.

 

Eco-Communication: The AREL Framework

 

The session transitioned from chemistry to communication. Participants were taught the AREL Framework for effective advocacy:

  • Assertion: The claim or statement.
  • Reasoning: The logical explanation behind the claim.
  • Evidence: Supporting facts or data.
  • Linkback: Connecting the argument back to the original issue.

 

This method is essential in environmental communication to persuade others to adopt more eco-friendly behaviors.

 

Expanding Vocabulary

 

In every meeting, participants record at least five new vocabulary words or insights. These will eventually be compiled into "Eco-English Flashcards." New terms from this session included:

 

Gargling, pitera, yeast infection, phytochemicals, phytohormones, kitchen scraps, assertion, reasoning, evidence, and linkback.